Oleh: M. Nurhadi Perdana
Setiap kali hujan turun dengan curahan airnya yang deras, dengan
gelegar petirnya yang menyambar-nyambar, dengan angin yang bertiup
cepat, lelaki itu selalu berjalan dengan santainya. Dengan tangan
didalam saku celana, dengan tubuh dan pakaian yang basah kuyup sampai
kedalam ia melangkah ringan seperti tidak terjadi apapun. Dari mulutnya
terdengar ia bersenandung, menirukan lagu dari walkman yang terpasang
di telinganya, just walking in the rain …
Setiap pasang mata yang melihatnya hanya bisa membelalak,
menggeleng-gelengkan kepala, menyerngitkan dahi, atau bergumam pelan, “
Barangkali orang gila.”
“ Ah, masa! Orang gila begitu rapinya?.”
“ Seseorang tidak harus compang-camping untuk jadi gila, kan?.”
Tapi apapun kata orang, laki-laki tersebut tidak pernah peduli. Dia
melenggak-lenggok dalam hujan dengan santainya seperti tidak terjadi
apa-apa. Dengan tangan di dalam saku, dengan walkman terpasang di
telinga, dan bersenandung lagu yang sama, just walking in the rain …
Alasan laki-laki itu sederhana saja, namun bagi banyak orang di
sekitarnya terdengar aneh bahkan gila. Dia selalu merasa kasihan pada
hujan.
“ Merasa kasihan dengan hujan, apa maksudmu?,” tanya kekasihnya suatu
kali ketika ia datang untuk makan malam dengan pakaian yang basah kuyup.
“ Iya, aku merasa orang-orang di bumi ini kurang adil terhadap hujan.” ujarnya dengan gigi gemeretak menahan dingin.
“ Kurang adil bagaimana?.”
“ Coba kau perhatikan, setiap kali hujan datang orang-orang lari
ketakutan, berteriak-teriak histeris, berusaha sekuat tenaga
menghindarinya seakan-akan ia adalah monster menakutkan yang akan
menelan mereka. Padahal mereka tak pernah melakukannya ketika panas
terik melanda. Dan yang membuatku lebih merasa kasihan lagi pada hujan
adalah orang-orang selalu saja mengumpatnya, ‘ sialan, hujan! bagaimana
aku pergi ke kantor, sudah telat, nih. ‘ Aduh, hujan! batal, deh
kencanku, brengsek!’ ‘ Hujan lagi … hujan lagi, bagaimana pakaianku
bisa kering, sudah dua hari, hu … hu …’ ‘ Brengsek, hujannya deras
sekali, pasti banjir lagi, sialan!’. Padahal ketika udara panas
paling-paling mereka berkata, ‘ panas sekali, ya hari ini!. ‘ . Apa
salah hujan pada mereka sehingga ia sangat tidak di harapkan
kedatangannya?.
“ Ya, tidak seperti itu juga. Buktinya orang-orang selalu merindukan
hujan ketika panas sudah mencapai puncaknya, paceklik misalnya. Dengan
berbagai cara, baik mistik maupun dengan teknologi tinggi, mereka
mencoba mendatangkan hujan untuk mengairi kembali sawah-sawah dan tanah
mereka yang kering kerontang.”
“ Tapi setelah itu ia kembali di anak tirikan, iya kan?.”
“ Bukan begitu, juga. Barangkali mereka merasa tidak nyaman kalau harus
berbasah-basahan ketika mereka melakukan aktifitas. Barangkali mereka
takut sakit dan akhirnya tak bisa melakukan aktifitas rutinnya.”
“ Itu yang tidak adil menurutku. Panas juga bisa menyebabkan sakit.
Bukan hanya sakit kepala, tapi bahkan kanker kulit. Apa kau pernah
dengar kanker kulit di sebabkan oleh hujan?.”
“ Ah, susah berdebat denganmu. Kau benar-benar laki-laki aneh. Entah kenapa aku bisa mencintaimu.”
“ Ya, karena aku aneh.”
Itulah alasan yang selalu dikatakan laki-laki itu setiap kali ada orang
yang bertanya kenapa ia suka sekali mandi hujan. Seperti pagi itu
ketika ia datang ke kantor dengan pakaian yang basah kuyup, sehingga
air yang menetes dan merembes dari sepatunya membasahi lantai kantor
dari front office sampai ke ruangannya. Kantor masih sepi ketika ia
tiba, padahal sudah hampir pukul sembilan. “ Barangkali masih terjebak
hujan. Saya juga tidak bisa pulang, padahal saya sudah lelah sekali,
pak.” Kata seorang sekuriti yang kebetulan berjaga malam.
Membuang-buang waktu, gumamnya dalam hati. Apakah aktifitas harus
terhenti ketika hujan datang?. Hujan atau tidak hujan sama saja waktu
terus berdetak. Semakin lama hujan turun, semakin banyak hal yang kita
lewatkan kalau kita harus menunggunya reda. Mana kegilaan orang-orang
yang mengatakan waktu adalah uang, sehingga mereka tak ingin kehilangan
satu detik pun. Tapi sekarang lihat, mereka seakan-akan mati. Hanya
gara-gara hujan?. Apa yang mereka takutkan dari hujan?. Tidak masuk
akalku.
Tuhan menciptakan dunia ini dengan keseimbangan yang penuh. Tujuannya
tentu saja agar kehidupan semua makluk di bumi ini berjalan dengan
sempurna. Ada siang tentu ada malam. Ada baik tentu ada buruk. Ada
keras tentu ada lemah. Hilang salah satu unsur saja, koordinasi gerak
hidup pasti akan mengalami ketimpangan. Begitu juga dengan panas dan
hujan, mereka adalah satu kesatuan yang membuat hidup kita seimbang.
Jadi mustahil untuk memisahkan keduanya. Kita harus belajar
menikmati hujan seperti kita menikmati panas. Ini cuma permasalahan
persepsi. Kita selalu merasa segan untuk beraktifitas kala hujan,
karena kita selalu merasa risih dengan sifat basahnya. Kita risih
bertemu orang, masuk kantor atau duduk di dalam angkutan umum dengan
pakaian yang basah kuyup dan air yang menggenangi sepatu kita. Padahal
itu kan hal yang wajar. Sifat air memang basah, seperti juga batu yang
bersifat padat dan keras. Apa yang salah dengan itu?. Orang lain yang
melihat kita basah kuyup kala hari hujan juga pasti maklum. Kita saja
yang terlalu membesar-besarkan. Lain halnya kalau kita basah kuyup saat
hari sedang terik-teriknya, itu baru aneh.
“ Kau tahu tidak, sayang, kenapa akhir-akhir ini banyak bencana alam
yang di sebabkan oleh hujan?, “ tanya laki-laki itu pada kekasih
tercintanya.
“ Karena sekarang musim hujan, dan banyak hutan-hutan gundul karena
ilegal logging. Juga sungai, kali bahkan bendungan yang di padati
sampah. Dasar manusia-manusia tidak beranggung jawab!. “
“ Masuk akal.”
“ Memang begitu.”
“ Tapi menurutku, itu karena hujan marah pada kita karena kita selalu
menganaktirikannya, menyumpahinya, dan memanfaatkannya hanya pada
saat-saat tertentu saja. Dia ingin mendapatkan cinta tulus dari kita
manusia-manusia bumi seperti halnya panas.
“ Sayang, bisa tidak kamu hentikan pandangan konyolmu itu. Ini
keringkan rambutmu,” kata si perempuan sambil menyodorkan sehelai
handuk kecil pada laki-laki itu. “ Lepaskan bajumu, biar ku ambilkan
pakaian kering untukmu. Kau benar-benar laki-laki aneh.”
“ Tapi kau mencintaiku, kan?. Siapa yang aneh kalau begitu?.”
Begitulah, laki-laki itu tetap pada pandangannya tentang hujan yang
aneh, konyol, bahkan gila bagi kebanyakan orang. Tapi ia tidak peduli,
hujan tidak pernah menghalanginya beraktifitas. Masuk kantor, pulang
kantor, berkencan, dilakukannya dengan suka cita dengan pakaian yang
basah kuyup dan kecipak air dari sepatunya. Berjalan dengan gerakan
sempurna, dengan tangan masuk ke dalam saku, dengan walkman terpasang
di telinga dan bersenandung lagu kesukaannya, just walking ini the rain
… sementara hujan menjarahi wajahnya yang tampan.
Malam itu, seperti malam-malam lain hujan turun dengan derasnya.
Laki-laki itu di dalam kamarnya memandangi aliran air yang turun dari
balik kaca jendela. Sebuah selendang leher melingkar di pundaknya.
Telepon berdering membuyarkan lamunannya.
“ Hallo!,” sapanya dengan suara serak dan malas.
“ Kau tidak datang?.”
“ Hujan.”
“ Ah, tumben biasanya kamu tidak pernah takut dengan hujan?.”
“ Aku demam.”
“ Kenapa?.”
“ Terlalu banyak mandi hujan.”
“ Oooo … ya sudah, kalau begitu aku yang ke tempatmu.”
“ Tapi sedang hujan deras, sayang.”
“ Aktifitas tidak boleh berhenti karena hujan, bukan begitu, sayang.”
Telepon di tutup. Laki-laki itu merebahkan diri di kasur sambil
tersenyum simpul. Terdengar lagu lain di radio, listen to the rytm of
falling rain …
Tamat
Recent Comments